Darah (Blood)

>> Wednesday, January 27, 2010

Darah (Blood)
Darah merupakan alat transport berbagai zat ditubuh manusia, darah berperan untuk proses homeostasis dalam mempertahankan stabilitas lingkungan dalam tubuh dan untuk mengembalikan fungsi tubuh dalam keadaan semula, dari proses hemostasis ini muncul perubahan seperti :
  • Berkeringat serta menguapnya keringat serta munculnya panas daam tubuh untuk menguapkan keringat
  • Sirkulasi darah meningkat, peningkatan sirkulasi ini karena kerja jantung dan penyesuaian pembuluh darah
  • Pernafasan meningkat dalam usaha memenuhi kebutuhan oksigen
Darah terdiri atas plasma 55 % dan sel 45%, sel dalam darah antara lain adalah trombosit, sel darah putih, sel darah merah.
Plasma mengandung ion Na, K, Ca, Mg, dan lain-lain. Adapun zat organic seperti asam amino, protein, glukosa. Plasma mudah beku karena terdapat protein fibrinogen yang dapat berubah menjadi fibrin yang berperan dalam pembekua darah.
Protein plasma darah berupa albumin, globulin dan fibrinogen, yang memberikan tekanan osmotic koloid ( tekanan onkotik ) tekanan ini berfungsi menarik air kembali ke kapiler dan intersisial setelah terjadi filtrasi.

SEL DARAH PUTIH
Sel darah putih terdiri dari granulosit, limfosit, monosit.
Granulosit terdiri dari :
  • Netrofil yang berfungsi membunuh bakteri, pada infeksi akut jumlah sel ini meningkat.
  • Basofil, melepaskan histamin, sel ini berperan pada reaksi hipersensitif tipe cepat seperti urtikaria, rhinitis alergika, syok anafilaktik.
  • Menyerang beberapa jenis parasit, sel ini meningkat pada penderita alergi.
  • Monosit : Monosit termasuk darah dari sumsum tulang, kemudian masuk jaringan, berubah namanya menjadi makrofag jaringan, berfungsi seperti netrofil membunuh bakteri.
  • Limfosit : Terdiri dari sel limfosit B dan sel limfosit T yang keduanya berperan dalam kekebalan imunitas.
SISTEM KEKEBALAN
Apabila ada benda asing yang masuk kedalam tubuh, maka tubuh akan bereaksi memebentuk suatu zat anti ( anti bodi ) yang khas untuk masing masing benda asing tersebut. Kekebalan mungkin dapat dibawa sejak lahir, melalui zat anti yang diberikan ibu atau dapat pula diperoleh kemudian. Kekebalan yang diperoleh kemudian bisa terjadi karena infeksi secara alamiah yang kemudian menimbulkan penyakit atau tidak sampai menimbulkan penyakit, atau dapat pula kekebalan yang sifatnya dibuat dengan memberi vaksin tertentu, contohnya :
• Vaksin BCG untuk mencegah penyakit TBC pada anak
• Vaksin Polio
• Vaksin DPT
• Vaksin TT
• Vaksin Morbili
• Vaksin rubella

Jenis kekebalan terbagi dalam 2 bentuk
  • Kekebalan humoral, terjadi karena terbentuknya gama globulin yang spesifik untuk suatu antigen setelah bereaksi dengan sel limfosit B tersebut.umumnya kekebalan ini tidak berlangsung lama hanya sekitar beberapa bulan.
  • Kekebalan seluler merupakan kekebalan yang dibawa oleh sel T untuk antigen tertentu, umumnya kekebalan ini berlangsung lama hingga bertahun – tahun.
SEL DARAH MERAH
Eritrosit sebagai sel darah merah berumur rata – rata 120 hari, sel ini berbentuk cakram, dengan jumlah rata – rata sekitar 5 juta / mm3 atau sekitar 25 Triliun dalam 5 liter darah, jika dalam perhitungan detik maka didapatkan dalam 1 detik akan terbentuk 2. 400.000 sel baru dan selama hidupnya eritrosit ini akan melewati aliran darah dengan menempuh lebih dari 1000 km dalam hidupnya.
Eritrosit yang tua akan mengalami kematian dan dihancurkan di limpa, limpa juga tempat menyimpan trombosit dan limfosit serta menyimpan eritrosit yang sehat. Apabila darah dilakukan sentrifugal maka akan didapatkan hematokrit yang merupakan bagian terbesarnya berisi eritrosit, nilai hematokrit pada laki –laki berkisar 47 % dan pada perempuan 42 %. Didalam eritrosit terdapat hemoglobin ( Hb ) yang berfungsi mengikat oksigen untuk didistribusikan keseluruh jaringan tubuh, kadar Hb untuk laki – laki 16 gr/dl dan perempuan 14 gr/dl.
Eritopoisis atau pembentukan eritrosit pada anak – anak berlangsung di seluruh sumsum tulang, sedangkan pada dewasa terjadi pada tulang – tulang pipih, eritopoisis terjadi karena rangsangan hormon eritopoitin yang dihasilkan di ginjal.
Apabila kadar O2 arteri menurun maka produksi eritopoitin meningkat dan peningkatan ini akan merangsang pembentukan eritrosit lebih banyak lagi sehingga kadar Hb sebagai pembawa oksigen juga ikut meningkat. Kerusakan pada ginjal menyebabkan penurunan eritopoitin akibatnya pembentukan eritrosit juga berkurang sehingga menyebabkan anemia.

ANEMIA DAN HEMOFILIA
Anemia dapat terjadi karena kekurangan kadar Hb dalam darah, secara umum anemia dapat disebabkan oleh :
  1. Anemia defisiensi, anemia karena kekurangan zat – zat pembentuk eritrosit, misal zat besi, asam folat, B12.
  2. Anemia pernisiosa, disebabkan oleh vitamin B12 tidak dapat diserap oleh usus.
  3. Anemia hemolitik, disebabkan darah yang ada dalam tubuh kita mudah hancur atau lisis karena zat – zat tertentu misal bisa ular atau karena penyakit lain misal talasemia.
  4. Anemia aplastik, terjadi karena proses pembentukan eritrosit terganggu karena ada gangguan pada sumsum tulang.
  5. Anemia karena perdarahan akibat dari kehilangan darah yang bersifat masif.
  6. Anemia renalis.
Hemofili merupakan salah satu penyakit gangguan darah, apabila pemderita terluka maka akan sukar berhenti. Hal ini disebabkan gangguan defisiensi faktor VIII dan bersifat herediter.

GOLONGAN DARAH
Didalam tubuh kita golongan darah ditentukan oeh antigen dan antibodi, yang masing masing orang berbeda dan akan menimbulkan reaksi antigen – antibodi bila darah yang berbeda itu tercampur. Golongna darah yang sering dipakai adalah sistem ABO dan faktor resus.

Apakah Golongan Darah itu?
Golongan darah ditentukan adanya suatu zat/antigen yang terdapat dalam sel darah merah. Dalam system ABO yang ditemukan Lansteiner tahnu 1900, golongan darah dibagi :
Gol Sel Darah Merah Plasma
A Antigen A Antibodi B
B Antigen B antibodi A
AB Antigen A & B tak ada antibodi
O Tak ada antigen Antibodi Anti A & Anti B

Siapa yang menemukan asal muasal golongan darah pada manusia?
Landsteiner adalah orang yang menemukan 3 dari 4 golongan darah dalam ABO sistem pada tahun 1900 dengan cara memeriksa golongan darah beberapa teman sekerjanya. Percobaan dilakukan dengan melakukan reaksi antara sel darah merah dan serum dari donor. Hasilnya adalah dua macam reaksi dan dan satu macam tanpa reaksi. Kesimpulannya ada dua macam antigen A dan B di sel darah merah yang disebut golongan A dan B, atau samasekali tidak ada reaksi

"

0 komentar:

Post a Comment

Blog Archive

  © Free Medical Journal powered by Blogger.com 2010

Back to TOP