Gambaran pelaksanaan teknik menyusui pada ibu menyusui di posyandu

>> Tuesday, May 25, 2010

Gambaran pelaksanaan teknik menyusui pada ibu menyusui di posyandu

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kehamilan, persalinan dan menyusui merupakan proses fisiologi yang perlu dipersiapkan oleh wanita dari pasangan subur agar dapat dilalui dengan aman. Selama masa kehamilan, ibu dan janin adalah unit fungsi yang tidak terpisahkan. Kesehatan ibu hamil dan menyusui adalah persyaratan penting untuk fungsi optimal dan perkembangan kedua bagian unit itu. Dalam menanti kelahiran bayi, si ibu harus menyiapkan terlebih dahulu keadaan psikologinya dalam menghadapi bayinya nanti, terutama dalam hal menyusui bayi (Widia, 2007)
Menyusui mengurangi resiko bayi terkena alergi, diare, intoleransi susu hewan, infeksi saluran nafas, penyakit saluran cerna, radang paru-paru, infeksi telinga dan radang selaput otak, mengurangi peluang bayi terkena diabetes dan obesitas, serta membantu meningkatkan kecerdasan bayi. Selain itu menyusui bayi sesegera mungkin setelah bayi lahir, juga memberikan keuntungan bagi ibu yaitu rahim ibu cepat mengecil sehingga perdarahan setelah melahirkan berkurang (Naya, 2007).
Pengalaman dalam upaya meningkatkan penggunaan Air Susu Ibu (ASI) selama 15 tahun menunjukkan bahwa hambatan utama penggunaan ASI adalah kurang sampainya pengetahuan yang benar tentang ASI dan menyusui pada para ibu. ASI dan menyusui umumnya dianggap hal yang biasa yang tidak perlu di pelajari, manajemen laktasi atau cara menyusui yang kurang tepat, adanya mitos-mitos yang menyesatkan yang sering menghambat pemberian ASI (Roesli, 2000).
dr. Josep Budi, S.SPA mengatakan meskipun menyusui itu mudah, namun ibu-ibu yang memiliki bayi harus tetap memahami teknik menyusui bayi yang baik dan benar banyak ibu yang menyusui bayinya, namun tidak banyak yang menyusui dengan sukses (Kelkes.biz, 2007).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dian Nursusanti Mahasiswi Akademi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Ponorogo tahun 2006 pada 32 orang ibu post partum primipara di Puskesmas Sawoo Ponorogo Jawa Timur, didapatkan teknik menyusui buruk 19 orang (59,38%), teknik menyusui baik 13 orang (40,62%), sedangkan hasil penelitian yang dilakukan Ria Puspita Mahasiswi Poltekkes Tanjung Karang Prodi Kebidanan Metro tahun 2006 pada 17 ibu primipara di BPS CH. Sudilah Ganjar Agung Metro Barat, ditemukan 11 orang yang masih salah dalam melakukan teknik menyusui (61,9). Kesalahan banyak terletak pada posisi menyusui dan langkah-langkah menyusui.
Masalah yang tersering dalam menyusui adalah Puting susu nyeri / lecet, sekitar 57% dari ibu yang menyusui dilaporkan pernah menderita kelecetan pada putingnya. Kebanyakan Puting nyeri atau lecet disebabkan oleh kesalahan dalam teknik menyusui yaitu bayi tidak menyusu sampai kekalang payudara. (Soetjningsih, 1997). Sering kali kegagalan menyusui disebabkan karena kesalahan memposisikan dan melekatkan bayi (Suradi, 2008). Jika bayi tidak melekat dengan sempurna atau anda mendekap bayi sedemikian rupa sehingga menyebabkan puting menjadi nyeri, jika puting terus-menerus tergesek oleh lidah atau langit-langit bayi puting dapat mengalami abrasi atau luka. Puting yang lecet sangat menyakitkan dan dapat menyebabkan perdarahan, jika puting yang lecet tidak segera diobati dapat menyebabkan mastitis dan abses di payudara. Selain menyebabkan puting susu lecet teknik menyusui yang salah juga dapat mengakibatkan ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu (Ramaiah. S, 2007).
Kurangnya asupan ASI pada minggu pertama akan berdampak ikterus pada bayi, karena ASI pada hari-hari pertama masih sedikit dan pengeluaran feses sedikit sehingga meningkatkan sirkulasi enterohepatik. Menyusui dini sangat penting agar bayi mendapat kolostrum yang sifatnya furgatif. Ibu disuruh untuk menyusui lebih sering sehingga ASI lebih banyak dan pengeluaran feses lebih lancar (IDI, 2006).
Berdasarkan hasil perhitungan data Sensus Nasional (2006), jumlah bayi di Lampung sebanyak 167.857, yang diberi ASI eksklusif sebanyak 68.178 (40,62%). Target pencapaian ASI eksklusif sekitar 80%, jadi target yang belum tercapai sekitar 39,38% (Dinkes Provinsi Lampung, 2006). Di Kabupaten Tanggamus pada tahun 2006 jumlah bayi sebanyak 19.709 yang diberi ASI eksklusif sebanyak 5.544 (28,13%), target yang belum tercapai sebanyak 51,87% (Dinkes Provinsi Lampung, 2006). Tahun 2008 jumlah bayi di Kabupaten Tanggamus meningkat sebanyak 20.135 bayi. Berdasarkan laporan Dinkes Kabupaten Tanggamus pada triwulan pertama tahun 2008 terjadi peningkatan presentasi cakupan ASI ekslusif, namun peningkatan ini tidak mancapai target. Bayi yang diberi ASI ekslusif sebanyak 6.040 (30%) dan target yang belum tercapai sebesar 50%. Sedangkan di Puskesmas Kota Agung dari 837 bayi, yang diberi ASI ekslusif 146 (17,46%) dan target yang belum tercapai sebanyak 62,55% (Dinkes Kabupaten Tanggamus 2008)
Rendahnya pemberian ASI eksklusif menjadi pemicu rendahnya status gizi bayi dan balita. Akibat pemberian ASI yang salah maka sekitar 6,7 balita atau 27,3% dari seluruh balita di Indonesia menderita kurang gizi, sebanyak 1,5 juta diantaranya menderita gizi buruk (Wikio, 2008). Berdasarkan hasil perhitungan data Susenas 2006, jumlah balita yang menderita kurang gizi sebanyak 53664 (10,63 %) yang menderita gizi buruk 14976 (10, 63%) di Kabupaten Tanggamus jumlah balita yang menderita gizi kurang sebanyak 2427 (4,89%) yang menderita gizi buruk 721 (1,45%) (Dinkes Lampung, 2006). Berdasarkan laporan puskesmas Kota Agung pada triwulan pertama tahun 2008 jumlah balita yang menderita gizi kurang sebanyak 14 balita dan gizi buruk sebanyak 37 balita.
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai gambaran pelaksanaan teknik menyusui yang benar pada ibu nifas, didukung dengan hasil pra survey yang dilakukan penulis pada tanggal 19 Maret – 21 Maret 2008 di RB Restu Bunda Kota Agung ditemukan 5 ibu post partum yang sedang dirawat dan 2 ibu nifas yang melakukan kunjungan nifas, dari 7 ibu tersebut penulis melakukan observasi mengenai teknik menyusui yang benar ditemukan hanya ada 1 yang dapat melakukan teknik menyusui yang benar dan 6 lainnya masih salah dalam melakukan teknik menyusui yang benar. Kesalahan itu banyak terletak pada langkah-langkah menyusui terutama cara melepaskan hisapan diakhir menyusui dan menyendawakan bayi. Sebagian besar ibu yang melahirkan di RB Restu Bunda membawa anaknya ke Posyandu Melati untuk memantau tumbuh kembang anaknya. Perkiraan ibu menyusui yang mengunjungi Posyandu Melati pada bulan Juni sebanyak 20 – 25 orang.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah ”Bagaimanakah Gambaran Pelaksanaan Teknik Menyusui Pada Ibu Menyusui di Posyandu Melati Kota Agung Tanggamus?”

C. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dari penelitian ini adalah:
1. Jenis Penelitian : Deskriptif
2. Objek Penelitian : Pelaksanaan teknik menyusui
3. Subjek Penelitian : Ibu menyusui
4. Tempat Penelitian : Posyandu Melati Kota Agung Tanggamus
5. Waktu Penelitian : 10 – 17 Juni 2008

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pelaksanaan teknik menyusui pada ibu menyusui di Posyandu Melati Kota Agung Tanggamus tahun 2008.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan teknik menyusui pada ibu menyusui dilihat dari lama dan frekuensi menyusui.
b. Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan teknik menyusui pada ibu menyusui dilihat dari posisi menyusui yang benar.
c. Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan teknik menyusui pada ibu menyusui dilihat dari langkah-langkah menyusui yang benar.

E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk :
1. Ibu menyusui di Posyandu Melati
Informasi yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman serta kesadaran ibu menyusui betapa pentingnya teknik menyusui.
2. Tenaga Kesehatan di Posyandu Melati
Informasi yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan bagi bidan sehingga klien dapat mendapatkan pelayanan khususnya mengenai teknik menyusui, diharapkan kinerja pelayanan yang diberikan tenaga kesehatan diharapkan lebih baik.
3. Untuk Institusi Pendidikan
Sebagai dokumen dan sumber bahan bacaan untuk menambah wawasan mahswa di Poltekkes Tanjung Karang Program Studi Kebidanan Metro
4. Peneliti lain
Sebagai bahan perbandingan dan masukan untuk melakukan penelitian selanjutnya tentang pelaksanaan teknik menyusui pada ibu menyusui dengan jenis penelitian lain atau penambahan variabel penelitian yang lebih lengkap dengan metode penelitian yang berbeda.

Gambaran pelaksanaan teknik menyusui pada ibu menyusui di posyandu

0 komentar:

Post a Comment

Blog Archive

  © Free Medical Journal powered by Blogger.com 2010

Back to TOP